Beranda Pendidikan SD Negeri Jambo Rambong Rawan Banjir, Aktivitas Belajar Terancam Terganggu

SD Negeri Jambo Rambong Rawan Banjir, Aktivitas Belajar Terancam Terganggu

4
0

Aceh Tamiang – Kondisi bangunan dan lingkungan SD Negeri Jambo Rambong, yang berlokasi di Jalan Sei Serba, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, menjadi perhatian serius. Pasalnya, sekolah tersebut dilaporkan kerap terendam banjir saat musim hujan, bahkan ketinggian air disebut mencapai selutut orang dewasa sehingga mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Kepala SD Negeri Jambo Rambong, Munawar Khalil, S.Pd., menyampaikan hal itu kepada awak media di kantornya, Selasa (20/10/2026). Ia mengatakan, banjir yang berulang menjadi persoalan serius bagi keberlangsungan pendidikan, terutama ketika siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran secara normal.

“Kalau musim hujan, sekolah ini terus mengalami banjir. Ketinggian air bisa sampai selutut, sehingga anak-anak tidak bisa belajar dengan nyaman. Persoalan ini sudah saya laporkan kepada dinas terkait dan telah mendapat tanggapan,” ujar Munawar Khalil.

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan perhatian dan tindak lanjut yang nyata agar proses pendidikan tidak terus-menerus terganggu setiap kali hujan turun dan banjir melanda kawasan sekolah.

Program Percontohan Pendidikan Ikut Terkendala

Selain menghadapi persoalan banjir, SD Negeri Jambo Rambong juga disebut memiliki peran dalam pelaksanaan program percontohan atau pilot project yang berkaitan dengan penguatan karakter dan pelestarian adat budaya Tamiang.

Munawar menjelaskan bahwa dirinya mendapat amanah sebagai koordinator wilayah untuk dua kecamatan, yakni Tamiang Hulu dan Bandar Pusaka. Penugasan tersebut berkaitan dengan gerakan yang digagas oleh mantan Kepala Dinas Pendidikan, P. Talip, dalam mendorong penerapan nilai-nilai adat dan budaya Tamiang di lingkungan pendidikan.

Program tersebut menekankan empat prinsip utama, yaitu santun, berwibawa, ramah dan bijaksana, serta pembiasaan mengaji selama 20 menit.

Namun, ia mengkhawatirkan kondisi sekolah yang kerap terendam banjir dapat menghambat pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk apabila kegiatan bersama harus dilaksanakan di lingkungan sekolah.

“Kalau sekolah ini terus terendam banjir, bagaimana program tersebut bisa berjalan dengan baik? Kami tentu membutuhkan solusi agar kegiatan pendidikan dan pembinaan karakter anak-anak tetap terlaksana,” ungkapnya.

Tokoh Masyarakat Usulkan Musyawarah dan Alternatif Lokasi

Menanggapi persoalan tersebut, tokoh masyarakat setempat sekaligus mantan kepala desa, Simun, menyampaikan pandangannya kepada awak media pada hari yang sama.

Ia menyarankan agar kepala sekolah segera berkoordinasi dengan Datok Penghulu beserta perangkat desa untuk menggelar musyawarah mengenai kemungkinan penyediaan lokasi sekolah yang lebih aman dari ancaman banjir.

Menurut Simun, salah satu opsi yang dapat dibahas bersama adalah mencari lahan alternatif, termasuk kemungkinan tukar guling lahan apabila tersedia dan memenuhi ketentuan yang berlaku.

“Kalau sekolah terus terendam banjir, kepala sekolah sebaiknya mengajak Datok Penghulu dan perangkat desa bermusyawarah untuk membahas lokasi baru. Siapa tahu ada lahan yang bisa menjadi alternatif, termasuk melalui mekanisme tukar guling sesuai aturan,” ujar Simun.

Ia menilai, persoalan tersebut tidak semestinya hanya dibebankan kepada pihak sekolah. Diperlukan komunikasi dan kerja sama antara pemerintah desa, pihak sekolah, dinas pendidikan, serta instansi terkait untuk mencari jalan keluar yang realistis dan berkelanjutan.

Keselamatan Siswa dan Kepastian Pendidikan Harus Menjadi Prioritas

Persoalan banjir yang berulang di SD Negeri Jambo Rambong menjadi pengingat bahwa akses pendidikan tidak hanya bergantung pada tenaga pendidik dan kurikulum, tetapi juga pada kondisi lingkungan sekolah yang aman dan layak.

Karena itu, diperlukan peninjauan lapangan untuk mengetahui penyebab dan tingkat risiko banjir, disertai kajian terhadap alternatif penanganan, baik melalui perbaikan drainase, peninggian fasilitas sekolah, maupun kemungkinan relokasi apabila kondisi teknis memang mengharuskannya.

Koordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas pendidikan juga penting agar setiap langkah didukung kajian teknis, ketersediaan anggaran, serta kepastian status lahan.

Hingga persoalan tersebut memperoleh penyelesaian, keselamatan peserta didik dan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar perlu menjadi prioritas bersama. Harapannya, SD Negeri Jambo Rambong dapat memiliki lingkungan pendidikan yang lebih aman, sehingga siswa tetap memperoleh hak belajar secara layak tanpa terus dibayangi ancaman banjir setiap musim hujan. (Marzuki)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini