Langkat – Keberadaan pasar pekanan di Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, setiap pekannya menjadi pusat keramaian masyarakat. Namun di balik geliat ekonomi tersebut, muncul persoalan yang dikeluhkan warga, yakni kemacetan dan terganggunya akses jalan akibat padatnya pedagang serta pembeli.
Kondisi tersebut terlihat pada Kamis (8/10/2026). Masyarakat dari berbagai kalangan dan sejumlah pelosok desa memadati kawasan pasar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, aktivitas perdagangan yang berlangsung hingga ke tepian jalan membuat ruang bagi pengguna jalan semakin terbatas.
Akibatnya, kendaraan roda dua maupun roda empat harus bergerak perlahan dan berhati-hati. Bahkan, pada saat kepadatan meningkat, pejalan kaki pun disebut kesulitan melintas.
Edi, warga Dusun I Gubang Gajah, Desa Halaban, mengaku kondisi tersebut telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan akses jalan tersebut.
“Kami sangat resah karena setiap hari pasar, aktivitas lalu lintas menjadi terganggu. Kondisi jalan yang sempit ditambah pedagang dan pembeli yang memadati kawasan membuat kendaraan sulit melintas,” kata Edi.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya berdampak terhadap pengguna kendaraan, tetapi juga terhadap aktivitas anak-anak sekolah. Para pelajar terpaksa memperhitungkan waktu keberangkatan agar tidak terjebak kepadatan pasar.
“Anak-anak yang hendak sekolah harus berangkat lebih awal. Kalau terlambat, tentu bisa mengganggu proses belajar mengajar,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan potensi gangguan akses ketika ada warga yang meninggal dunia atau melaksanakan hajatan. Menurutnya, kepadatan jalan dapat menjadi persoalan serius ketika masyarakat membutuhkan akses cepat untuk kepentingan sosial maupun keadaan darurat.
Kekhawatiran lain muncul dari sisi keselamatan para pedagang. Pedagang yang berjualan terlalu dekat dengan jalur kendaraan dinilai menghadapi risiko apabila terjadi kendaraan kehilangan kendali atau kecelakaan.
“Kami berharap pemerintah dan instansi terkait tidak membiarkan persoalan ini berlarut-larut. Harus ada penataan yang baik agar pedagang tetap bisa mencari nafkah, tetapi keselamatan masyarakat dan kelancaran jalan juga terjamin,” tegas Edi.
Hal senada disampaikan Laode, Ketua Ranting Pemuda Pancasila Desa Halaban. Ia mengatakan kepadatan pada hari pasar sudah menjadi pemandangan yang berulang.
“Setiap hari pasar, pengguna jalan sangat kesulitan. Jangankan membawa kendaraan, berjalan kaki saja terkadang susah karena masyarakat berdesakan,” ungkapnya.
Laode menyebut persoalan tersebut sebelumnya juga telah pernah disampaikan kepada pemerintah desa agar dilakukan penertiban dan penataan.
Ia berharap pemerintah desa bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret, bukan hanya ketika persoalan telah menimbulkan kecelakaan atau gangguan serius.
“Sebelum memasuki momentum hari-hari besar seperti Tahun Baru dan Idulfitri, sebaiknya penataan sudah dilakukan. Jangan sampai kondisi jalan yang sempit dan penuh sesak justru membuka peluang terjadinya tindak kejahatan atau kecelakaan,” katanya.
Menurutnya, penataan tidak harus mematikan aktivitas ekonomi masyarakat. Pemerintah dapat mencari solusi yang tetap memberikan ruang bagi pedagang sekaligus menjamin hak pengguna jalan.
“Kami dari Pemuda Pancasila bersama masyarakat Desa Halaban siap mendukung pemerintah. Yang kami harapkan adalah adanya ketertiban, keamanan, kenyamanan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat,” tegas Laode.
Kini bola berada di tangan pemerintah dan instansi terkait. Persoalan pasar pekanan bukan semata-mata tentang ramainya aktivitas jual beli, tetapi juga menyangkut hak masyarakat untuk mendapatkan akses jalan yang aman, lancar dan nyaman.
Masyarakat berharap segera ada solusi nyata melalui penataan lokasi pedagang, pengaturan arus kendaraan serta pengawasan di kawasan pasar, sehingga roda perekonomian tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan dan kepentingan pengguna jalan. (Adi Susanto)










